MENGANALISA KARYA SENI TERAPAN
MANCANEGARA
Berikut ini adalah karya
seni terapan yang berasal dari Korea Selatan yang hingga kini tetap ada dan
masih dipergunakan. Di antaranya adalah :
1.
Cheomseongdae (tempat pengamatan astronomi)
![]() |
·
Cheomseongdae dibangun pada masa pemerintahan Ratu
Seondeok (633-647 M).
- Putri Mahkota Kerajaan Silla tersebut memerintahkan pembangunan obsevatorium tersebut agar dapat digunakan sebagai tempat untuk melakukan perhitungan astronomi secara mandiri oleh rakyat. Dengan demikian, tidak ada lagi pejabat dan orang terpelajar yang bisa memanfaatkan ilmu astronomi dan astrologi yang pada masa itu (tak ada perbedaan antara keduanya )untuk menipu warga.
·
Yuji Wada, seorang ahli meteorolgi
dari Jepang menyimpulkan bahwa Cheomseongdae
merupakan obsevatorium tertua di Asia Timur. Ia juga meyakini bahwa ada
beberapa bagian bangunan yang sudah hilang seperti tangga bagian dalam.
·
Catatan sejarah menunjukkan bahwa ada
3 tempat yang bernama Cheomseongdae.
Pertama di Pyongyang (Korea Utara), Gyeongju, dan Gaeseong (Korea Utara).
Menurut buku “Kenangan Tentang Tiga Kerajaan”, Cheomseongdae juga digunakan untukmengamati rasi bintang dan pergerakan matahari.
· Cheomseongdae dibuat dari batu-batu yang disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan bentuk yang memiliki arti khusus.
· Dilihat dari luar, bangunan ini terdiri dari 3 bagian, yaitu : alas, menara, dan puncak.
· Spesifikasi :
a. Bagian alasnya dibuat dari 12 balok batu yang disusun sehingga berbentuk persegi. Susunan ini dibuat 2 lapis dengan lapisan kedua yang terkubur di dalam tanah.
b. Bagian utama bangunan bentuknya seperti botol berbentuk menara silinder dengan lingkar alas lebih besar daripada di bagian puncak. Dibuat dari susunan batu-batu yang jika dihitung jumlahnya 365 buah. Bagian utamanya terdiri dari 27 lapis. Di bagian tengahnya dibuat jendela persegi yang menghadap ke arah utara. Jumlah lapisan di atas tanah dan bawah jendela masing-masing berjumlah 12 baris.
c. Bagian puncaknya dibuat berupa pagar yang jika dilihat dari atas akan
tampak seperti huruf Cina #.
d. Jumlah batu untuk menyusun bagian utamanya menunjukkan jumlah dari setahun
samsiah (matahari), 365. Jumlah lapisan barangkali terkait Ratu Seondeok yang
merupakan penguasa Silla yang ke-27.
e. Jika lapisan atas yang tidak terkubur dimasukkan, maka jumlahnya menjadi 28
dan ini menunjukkan jumlah rasi bintang menurut astronomi oriental. Namun, jika
ditambahkan dengan 2 lapisan atap, jumlahnya akan menjadi 30 yang menunjukkan
jumlah hari dalam sebulan kamariah.
f.
Lapisan dibawah dan diatas
jendela masing-masing 12 buah, menunjukkan jumlah bulan dalam satu tahun. Jika
dijumlahkan menjadi 24 yang menunjukkan solar
term yang lazim dipakai pada sistem kalender lunisolar Cina.
g.
Bagian dalam obsevatorium ini
juga menarik. Dari bawah hingga lapisan ke-12 diisi dengan pasir. Mulai dari
jendela hingga ke atasnya kosong. Di lapisan ke-26, terdapat sebuah balok datar
-yang dilihat dari atas-menutupi ruang bagian timur. Untuk masuk ke dalam
bangunan ini, orang harus menggunakan tangga dari luar dan masuk melalui atap. Balok di lapisan ke 26 itu barangkali
dipergunakan untuk menaruh peralatan untuk pengamatan.
2.
Binyeo (tusuk konde)
·
Binyeo ditusukkan melewati konde rambut
sebagai pengencang atau aksesori. Bahan pembuatan binyeo bervariasi sesuai kedudukan sosial pemakainya.
·
Binyeo mulai dikenal sejak era Dinasti
Joseon.
·
Pada umumnya, Binyeo hanya dikenakan oleh keluarga Kerajaan dan para bangsawan
yang telah menikah.
·
Pada umumnya, binyeo digunakan bersama Dwikkoji
(aksesori lainnya) sebanyak lebih dari satu
untuk menyeimbangkan berat Binyeo
yang terbuat dari emas.

·
Bagi puteri kerajaan dan putri
bangsawan yang belum menikah, binyeo
tidak diijinkan untuk digunakan. Mereka harus memiliki gaya rambut normal yaitu
kepang satu yang diikat dengan pita bernama Daenggi.
·
Daenggi
adalah sebuah pita yang biasanya disulam dengan benang emas yang digunakan
untuk mengikat dan memperindah rambut yang panjang.
Hiasan lain seperti jepit bunga
disebut baetssi daenggi dipakai di atas kepala yang bentuknya kecil dan juga
ditambahkan konde kecil di kedua sisi rambut yang disebut cheopji.
·
Spesifikasi :
a. Gaya rambut yang menggunakan binyeo
ini paling sering dipakai oleh ratu atau puteri yang sudah menikah. Binyeo
yang berbentuk naga disebut yongjam.
b. Yongjam ini biasanya dipakai bersama Dangui
(baju hanbok ratu)
c. Yongjam berasal sari 2 kata yaitu ‘yong’
yang artinya naga dalam bahasa Korea dan ‘jam’
yang artinya tusuk konde.
d. Mutiara merah yang berada di dalam mulut naga berarti bahwa setiap
keniginan akan menjadi kenyataan. Di samping itu, artinya bulan memeluk
matahari yang merah. (Dalam tradisi Korea, Raja sering disimbolkan dengan
matahari sedangkan ratu disimbolkan dengan bulan)
e. Ratu juga menggunakan dwikkoji
lain selain dwikkoji tiga warna.
Mereka juga dapat menggunakan dwikkoji
yang berbentuk akar tumbuhan atau simbol-simbol yang berhubungan dengan alam.
·
Binyeo yang digunakan para putri kerajaan
dan selir kerajaan tentunya berbeda dari yang digunakan ratu dan ibu suri.
- Spesifikasi :
- Binyeo yang digunakan oleh para selir dan putri kerajaan
disebut Geumbongjam yang pada
umumnya berbentuk burung Phoenix.
- ‘Geum’ berarti emas, ‘bong’
berarti phoenix, dan ‘jam’
artinya tusuk konde
- Para selir dan putri tidak menggunakan dwikkoji tiga warna, namun pada umumnya dwikkoji berbentuk bunga atau kupu-kupu.
- Contoh Bongjam :
·
Contoh Dwikkoji :
·
Untuk Ratu
yang digulingkan (diturunkan dari tahta) dan keluarga kerajaan yang setingkatnya
(perempuan), kepang rambutnya akan di turunkan dan dipotong dalam upacara
penghilangan gelar secara resmi. Dwikkoji
yang melekat pada rambutnya juga harus di cabut dan diganti dengan binyeo yang terbuat dari giok.
- Hanbok
·
Hanbok adalah pakaian tradisional
Korea Selatan yang pada umumnya memiliki warna cerah dan tidak bersaku.
·
Han artinya orang Korea dan Bok artinya
pakaian.
·
Hanbok ini terkenal pada saat era
dinasti Joseon.
·
Karakteristik
yang menjadi keunggulan Hanbok adalah potongan siluetnya yang simpel dan
warna-warnanya yang atraktif dan indah.
·
Hanbok biasanya dipakai pada
acara-acara resmi pada jaman sekarang. Hanbok wajib dipakai pada saat ulang
tahun pertama seseorang, upacara pernikahan atau kematian, dan ulang tahun yang
ke 60.
·
Hanbok yang digunakan pada upacara
kematian adalah hanbok yang berwarna hitam.
·
Hanbok biasanya dipakai bersama Norigae (akseseori yang melambangkan
perhiasan pakaian)
·
Norigae yang dipakai ole kaum bangsawan
biasanya diselingi oleh giok.
·
Norigae biasanya memiliki bentuk bunga atau
kupu-kupu dan pola variasi yang terbentuk dapat terlihat seperti batik jika
dilihat sekali lewat. Namun, norigae
dapat dikatakan sebagai batik berwarna-warni.
·
Spesifikasi
:
- Joegori adalah bagian dari atas hanbok. Untuk wabita ditandai
dengan garis lengkung agak pendek dan dekorasi yang lembut.
- Naegori adalah perhiasan hanbok.
- Otgoreum adalah pita yang dipakai pada baju hanbok untuk
wanita, yang melintang hingga ke rok (Chima).
- Dongjeong adalah krah yang berwarna putih.
- Chima adalah rok pada bagian hanbok. Ada berbagai jenis chima, ada yang lapisan tunggal
dan ada yang double.
- Patrones adalah susunan garis atau gambar dan juga perpaduan
warna.
Hanbok yang dipakai oleh ratu, ibu suri, selir, dan putri disebut dangui.
·
Pada jaman dahulu, pembuatan dangui keluarga kerajaan menggunakan warna-waran natural alami.
Misalnya, warna merah diambil dari kelopak bunga merah.
·
Bentuk hanbok maupun dangui dibuat sempit pada bagian atas dan lebar dibagian bawah
dengan artian agar bagian atas terlihat menarik karena pas dengan bentuk tubuh
dan bagian bawah dibuat lebar untuk meningkatkan keanggunan pemakainya juga
untuk menyembunyikan fisik tubuh bagian bawah serta memudahkan wanita untuk
membungkuk pada waktu memberi hormat dan menambahkan keleleluasaan ketika mengambil
posisi untuk duduk bersila.
·
Spesifikasi
:
a.
Perbedaan
mencolok dari dangui yang di pakai
oleh keluarga kerajaan dengan keluarga bangsawan adalah pola (pola emas) di
baju mereka.
b.
Untuk
ratu dan ibu suri ada lambang naga yang terjahit di bahu, depan, dan belakang dangui mereka.
c.
Naga
yang dijahit adalah ohjeoeryongbo
(naga lima jari) sama seperti yang dipakai raja
d.
Biasanya,
dangui yang digunakan oleh seorang
ratu atau setingkatnya dilambangkan dengan warna merah yang khas.
e.
Ibu suri menggunakan warna kuning keemasan dan selir berwarna hijau.

f.
Untuk
putri kerajaan, lambang yang dipergunakan hanya boleh bersulamkan bunga. Untuk
putri yang masih kecil, dangui-nya
agak simple. Namun, ketika putri tersebut telah beranjak remaja, dangui yang dikenakannya akan
ditambahkan dengan pola geumbak emas.
·
Hanbok
tidak hanya dipakai oleh kaum wanita, namun juga kaum pria. Raja memang tidak
memakai hanbok dalam kesehariannya, namun ia memakai jubah besar berwarna
merah dengan lambang naga yang merupakan
adaptasi lain dari hanbok.
·
Jubah
besar berwarna merah itu disebut gonryongpo.
Gonryongpo di pakai oleh raja yang
berkuasa, putra mahkota, dan anak laki-laki pertama dari putra mahkota (calon
putra mahkota). Perbedaannya hanyalah terletak pada warna dan lambang naga.
·
Spesifikasi
:
a. Untuk raja, jubah yang dikenakan tersulam naga emas
yang berjumlah 5 jari yang dikenal dengan nama ohjoeryongbo.
b.
Ohjoeryongbo di jahit di bagian depan, belakang,
serta kedua lengan kiri dan kanan pada gonryongpo.
c.
Sebagai
pelengkap dari gonryongpo, mahkota
dikenal dengan nama ikseongwan yang
warnanya hitam pada umumnya. Di pinggang, dilengkapi sabuk dengan giok yang disebut gakdae yang tak kalah pentingnya.
a.
Jubah
yang dikenakan oleh putra mahkota dan anak laki-laki pertamanya adalah warna
biru agak keunguan.
b.
Putra mahkota mengenakan juabh dengan naga empat jari (sajoeryongbo).
c.
Untuk anak pertama dari putra mahkota memakai lambang naga berjari 3( samjoeryongbo).
·
Untuk
acara-acara khusus seperti penobatan dan pernikahan, raja memakai jubah spesial
yang bernama myeonbok.
·
Spesifikasi
:
a.
Myeonbok terdiri atas 2 jenis yaitu : gijangbok (pakaian 9 simbol untuk raja)
dan sibijangbok (pakaian 12 simbol
untuk kaisar).
b.
Disebut
gujangbok karena ada 9 jenis simbol
yang tersulam di jubah. Bagian dari atas jubah, naga di kedua bahu, gunung di
belakang, api, burung, dan lambang barel anggur harimau di keliman lengan yang disebut
ojong (artinya yang).
c.
Untuk
roknya (pasangan jubah), ada biji padi, kapak dan api yang artinya sajang,
yang artinya untuk ying.
d.
Warna
jubah hitam kemerahan untuk di luar dan ungu untuk di dalam. Jubah ini
ukurannya lebih pendek di bandingkan jubah yang normal, jadi lambang-lambang
yang tersulam di rok tetap terlihat.
e.
Baju
yang berada di dalam (lebih sering tidak terlihat) di kenal dengan nama jungdan, yang berwarna putih dengan
keliman warna biru.
f.
Daedae adalah sabuk di pinggang berwarna
merah dan putih yang digunakan untuk mengencangkan rok.
g.
Sabuk
pinggang, hyeokdae dipagari oleh
giok. Ada sepasang giok yang disebut pae,
tergantung di hyeokdae.
h.
Rok
berwarna pink mawar (atau merah). Pelindung lutut, pyeusul, di ikat bersama ke
pinggang di balik rok, tapi kini niasanay dijahit ke rok. Berukuran persegi
panjang, dibuat dari sutra merah dengan kain hitam yang melapisi tepinya.
i.
Banyaknya
manik-manik di myeonrugwan menunjukkan status si pemakai. 12 untuk kaisar, 9
untuk raja, dan 8 untuk putra mahkota.

























