Text Select - Hello Kitty
Text Select - Hello Kitty
Text Select - Hello Kitty
Text Select - Hello Kitty

Selasa, 02 Oktober 2012

Korean style



                                                                                                                               
MENGANALISA KARYA SENI TERAPAN MANCANEGARA

            Berikut ini adalah karya seni terapan yang berasal dari Korea Selatan yang hingga kini tetap ada dan masih dipergunakan. Di antaranya adalah :
1.                   Cheomseongdae (tempat pengamatan astronomi)


          ·         Cheomseongdae dibangun pada masa pemerintahan Ratu Seondeok (633-647 M).
  •    Putri Mahkota Kerajaan Silla tersebut memerintahkan pembangunan obsevatorium tersebut agar dapat digunakan sebagai tempat untuk melakukan perhitungan astronomi secara mandiri oleh rakyat. Dengan demikian, tidak ada lagi pejabat dan orang terpelajar yang bisa memanfaatkan ilmu astronomi dan astrologi yang pada masa itu (tak ada perbedaan antara keduanya )untuk menipu warga.

·         Yuji Wada, seorang ahli meteorolgi dari Jepang menyimpulkan bahwa Cheomseongdae merupakan obsevatorium tertua di Asia Timur. Ia juga meyakini bahwa ada beberapa bagian bangunan yang sudah hilang seperti tangga bagian dalam.
·         Catatan sejarah menunjukkan bahwa ada 3 tempat yang bernama Cheomseongdae. Pertama di Pyongyang (Korea Utara), Gyeongju, dan Gaeseong (Korea Utara).
Menurut buku “Kenangan Tentang Tiga Kerajaan”, Cheomseongdae juga digunakan untukmengamati rasi bintang dan pergerakan matahari.      
·         Cheomseongdae dibuat dari batu-batu yang disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan bentuk yang memiliki arti khusus.
·         Dilihat dari luar, bangunan ini terdiri dari 3 bagian, yaitu : alas, menara, dan puncak.
·         Spesifikasi :
a.      Bagian alasnya dibuat dari 12 balok batu yang disusun sehingga berbentuk persegi. Susunan ini dibuat 2 lapis dengan lapisan kedua yang terkubur di dalam tanah.
b.      Bagian utama bangunan bentuknya seperti botol berbentuk menara silinder dengan lingkar alas  lebih   besar daripada di bagian puncak. Dibuat dari susunan batu-batu yang jika dihitung jumlahnya 365 buah. Bagian utamanya terdiri dari 27 lapis. Di bagian tengahnya dibuat jendela persegi yang menghadap ke arah utara. Jumlah lapisan di atas tanah dan bawah jendela masing-masing berjumlah 12 baris.

c.       Bagian puncaknya dibuat berupa pagar yang jika dilihat dari atas akan tampak seperti huruf Cina #.
d.      Jumlah batu untuk menyusun bagian utamanya menunjukkan jumlah dari setahun samsiah (matahari), 365. Jumlah lapisan barangkali terkait Ratu Seondeok yang merupakan penguasa Silla yang ke-27.
e.      Jika lapisan atas yang tidak terkubur dimasukkan, maka jumlahnya menjadi 28 dan ini menunjukkan jumlah rasi bintang menurut astronomi oriental. Namun, jika ditambahkan dengan 2 lapisan atap, jumlahnya akan menjadi 30 yang menunjukkan jumlah hari dalam sebulan kamariah.
f.        Lapisan dibawah dan diatas jendela masing-masing 12 buah, menunjukkan jumlah bulan dalam satu tahun. Jika dijumlahkan menjadi 24 yang menunjukkan solar term yang lazim dipakai pada sistem kalender lunisolar Cina.
g.      Bagian dalam obsevatorium ini juga menarik. Dari bawah hingga lapisan ke-12 diisi dengan pasir. Mulai dari jendela hingga ke atasnya kosong. Di lapisan ke-26, terdapat sebuah balok datar -yang dilihat dari atas-menutupi ruang bagian timur. Untuk masuk ke dalam bangunan ini, orang harus menggunakan tangga dari luar dan masuk melalui atap. Balok di lapisan ke 26 itu barangkali dipergunakan untuk menaruh peralatan untuk pengamatan.

2.                   Binyeo (tusuk konde)
·                Binyeo ditusukkan melewati konde rambut sebagai pengencang atau aksesori. Bahan pembuatan binyeo bervariasi sesuai kedudukan sosial pemakainya.
·                Binyeo mulai dikenal sejak era Dinasti Joseon.
·                Pada umumnya, Binyeo hanya dikenakan oleh keluarga Kerajaan dan para bangsawan yang telah menikah.
·                Pada umumnya, binyeo digunakan bersama Dwikkoji (aksesori lainnya) sebanyak lebih dari satu  untuk menyeimbangkan berat Binyeo yang terbuat dari emas.


·         Bagi puteri kerajaan dan putri bangsawan yang belum menikah, binyeo tidak diijinkan untuk digunakan. Mereka harus memiliki gaya rambut normal yaitu kepang satu yang diikat dengan pita bernama Daenggi.
·         Daenggi adalah sebuah pita yang biasanya disulam dengan benang emas yang digunakan untuk mengikat dan memperindah rambut yang panjang.
          Hiasan lain seperti jepit bunga disebut baetssi daenggi dipakai di atas kepala yang bentuknya kecil dan juga ditambahkan konde kecil di kedua sisi rambut yang disebut cheopji.

·                     Spesifikasi :


a.      Gaya rambut yang menggunakan binyeo ini paling sering dipakai oleh ratu atau puteri yang sudah  menikah. Binyeo yang berbentuk naga disebut yongjam.
b.      Yongjam ini biasanya dipakai bersama Dangui (baju hanbok ratu)
c.       Yongjam berasal sari 2 kata yaitu ‘yong’ yang artinya naga dalam bahasa Korea dan ‘jam’ yang artinya tusuk konde.
d.      Mutiara merah yang berada di dalam mulut naga berarti bahwa setiap keniginan akan menjadi kenyataan. Di samping itu, artinya bulan memeluk matahari yang merah. (Dalam tradisi Korea, Raja sering disimbolkan dengan matahari sedangkan ratu disimbolkan dengan bulan)
e.      Ratu juga menggunakan dwikkoji lain selain dwikkoji tiga warna. Mereka juga dapat menggunakan dwikkoji yang berbentuk akar tumbuhan atau simbol-simbol yang berhubungan dengan alam.
·      Binyeo yang digunakan para putri kerajaan dan selir kerajaan tentunya berbeda dari yang digunakan ratu dan ibu suri.
  • Spesifikasi :
  1. Binyeo yang digunakan oleh para selir dan putri kerajaan disebut Geumbongjam yang pada umumnya berbentuk burung Phoenix.
  2. ‘Geum’ berarti emas, ‘bong’ berarti phoenix, dan ‘jam’ artinya tusuk konde
  3. Para selir dan putri tidak menggunakan dwikkoji tiga warna, namun pada umumnya dwikkoji berbentuk bunga atau kupu-kupu.  




  • Contoh Bongjam :





·         Contoh Dwikkoji :
·         Untuk Ratu yang digulingkan (diturunkan dari tahta) dan keluarga kerajaan yang setingkatnya (perempuan), kepang rambutnya akan di turunkan dan dipotong dalam upacara penghilangan gelar secara resmi. Dwikkoji yang melekat pada rambutnya juga harus di cabut dan diganti dengan binyeo yang terbuat dari giok.




  1. Hanbok
·         Hanbok adalah pakaian tradisional Korea Selatan yang pada  umumnya memiliki warna cerah dan tidak bersaku.
·         Han artinya orang Korea dan Bok artinya pakaian.
·         Hanbok ini terkenal pada saat era dinasti Joseon.
·         Karakteristik yang menjadi keunggulan Hanbok adalah potongan siluetnya yang simpel dan warna-warnanya yang atraktif dan indah.

·         Hanbok biasanya dipakai pada acara-acara resmi pada jaman sekarang. Hanbok wajib dipakai pada saat ulang tahun pertama seseorang, upacara pernikahan atau kematian, dan ulang tahun yang ke 60.
·         Hanbok yang digunakan pada upacara kematian adalah hanbok yang berwarna hitam.
·         Hanbok biasanya dipakai bersama Norigae (akseseori yang melambangkan perhiasan pakaian)
·         Norigae biasanya dipakai lebih dari satu.
·         Norigae yang dipakai ole kaum bangsawan biasanya diselingi oleh giok.
·         Norigae biasanya memiliki bentuk bunga atau kupu-kupu dan pola variasi yang terbentuk dapat terlihat seperti batik jika dilihat sekali lewat. Namun, norigae dapat dikatakan sebagai batik berwarna-warni.

·         Bagian-bagian hanbok:
·         Spesifikasi :
    1. Joegori adalah bagian dari atas hanbok. Untuk wabita ditandai dengan garis lengkung agak pendek dan dekorasi yang lembut.
    2. Naegori adalah perhiasan hanbok.
    3. Otgoreum adalah pita yang dipakai pada baju hanbok untuk wanita, yang melintang hingga ke rok (Chima).
    4. Dongjeong adalah krah yang berwarna putih.
    5. Chima adalah rok pada bagian hanbok. Ada berbagai jenis chima, ada yang lapisan tunggal dan ada yang double.
    6. Patrones adalah susunan garis atau gambar dan juga perpaduan warna.
      

Hanbok yang dipakai oleh ratu, ibu suri, selir, dan putri disebut dangui.






·         Pada jaman dahulu, pembuatan dangui keluarga kerajaan menggunakan warna-waran natural alami. Misalnya, warna merah diambil dari kelopak bunga merah.
·         Bentuk hanbok maupun dangui dibuat sempit pada bagian atas dan lebar dibagian bawah dengan artian agar bagian atas terlihat menarik karena pas dengan bentuk tubuh dan bagian bawah dibuat lebar untuk meningkatkan keanggunan pemakainya juga untuk menyembunyikan fisik tubuh bagian bawah serta memudahkan wanita untuk membungkuk pada waktu memberi hormat dan menambahkan keleleluasaan ketika mengambil posisi untuk duduk bersila.

·         Spesifikasi :
a.      Perbedaan mencolok dari dangui yang di pakai oleh keluarga kerajaan dengan keluarga bangsawan adalah pola (pola emas) di baju mereka.
b.      Untuk ratu dan ibu suri ada lambang naga yang terjahit di bahu, depan, dan belakang dangui mereka.
c.       Naga yang dijahit adalah ohjeoeryongbo (naga lima jari) sama seperti yang dipakai raja
d.      Biasanya, dangui yang digunakan oleh seorang ratu atau setingkatnya dilambangkan dengan warna merah yang khas.
e.      Ibu suri menggunakan warna kuning keemasan dan selir berwarna hijau.
 
f.        Untuk putri kerajaan, lambang yang dipergunakan hanya boleh bersulamkan bunga. Untuk putri yang masih kecil, dangui-nya agak simple. Namun, ketika putri tersebut telah beranjak remaja, dangui yang dikenakannya akan ditambahkan dengan pola geumbak emas.
·                Hanbok tidak hanya dipakai oleh kaum wanita, namun juga kaum pria. Raja memang tidak memakai hanbok dalam kesehariannya, namun ia memakai jubah besar berwarna merah  dengan lambang naga yang merupakan adaptasi lain dari  hanbok.
·                Jubah besar berwarna merah itu disebut gonryongpo. Gonryongpo di pakai oleh raja yang berkuasa, putra mahkota, dan anak laki-laki pertama dari putra mahkota (calon putra mahkota). Perbedaannya hanyalah terletak pada warna dan lambang naga.

·                Spesifikasi :
a.      Untuk raja, jubah yang dikenakan tersulam naga emas yang berjumlah 5 jari yang dikenal dengan nama ohjoeryongbo.
b.      Ohjoeryongbo di jahit di bagian depan, belakang, serta kedua lengan kiri dan kanan pada gonryongpo.
c.       Sebagai pelengkap dari gonryongpo, mahkota dikenal dengan nama ikseongwan yang warnanya hitam pada umumnya. Di pinggang, dilengkapi sabuk  dengan giok yang disebut gakdae yang tak kalah pentingnya.
·      Spesifikasi :
a.             Jubah yang dikenakan oleh putra mahkota dan anak laki-laki pertamanya adalah warna biru agak keunguan.
b.             Putra mahkota mengenakan juabh dengan naga empat jari (sajoeryongbo).
c.              Untuk anak pertama dari putra mahkota memakai lambang naga berjari 3( samjoeryongbo).
·                    Untuk acara-acara khusus seperti penobatan dan pernikahan, raja memakai jubah spesial yang bernama myeonbok.
·         Spesifikasi :
a.      Myeonbok terdiri atas 2 jenis yaitu : gijangbok (pakaian 9 simbol untuk raja) dan sibijangbok (pakaian 12 simbol untuk kaisar).
b.      Disebut gujangbok karena ada 9 jenis simbol yang tersulam di jubah. Bagian dari atas jubah, naga di kedua bahu, gunung di belakang, api, burung, dan lambang barel anggur harimau di keliman lengan yang disebut ojong (artinya yang).
c.       Untuk roknya (pasangan jubah), ada biji padi, kapak dan api yang artinya sajang, yang  artinya untuk ying.
d.      Warna jubah hitam kemerahan untuk di luar dan ungu untuk di dalam. Jubah ini ukurannya lebih pendek di bandingkan jubah yang normal, jadi lambang-lambang yang tersulam di rok tetap terlihat.
e.      Baju yang berada di dalam (lebih sering tidak terlihat) di kenal dengan nama jungdan, yang berwarna putih dengan keliman warna biru.
f.        Daedae adalah sabuk di pinggang berwarna merah dan putih yang digunakan untuk mengencangkan rok.
g.      Sabuk pinggang, hyeokdae dipagari oleh giok. Ada sepasang giok yang disebut pae, tergantung di hyeokdae.
h.      Rok berwarna pink mawar (atau merah). Pelindung lutut, pyeusul, di ikat bersama ke pinggang di balik rok, tapi kini niasanay dijahit ke rok. Berukuran persegi panjang, dibuat dari sutra merah dengan kain hitam yang melapisi tepinya.
i.        Banyaknya manik-manik di myeonrugwan menunjukkan status si pemakai. 12 untuk kaisar, 9 untuk raja, dan 8 untuk putra mahkota.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar